Sabtu, 24 Mai 2014 18:27 WIB
BANDA ACEH - Aceh dikenal dengan ragam budaya. Salah satunya khanduri apam. Nah event ini sering dirayakan masyarakat Aceh pada bulan Ra’jab. Tetapi sayang, arus budaya luar ikut menyeret budaya lokal, kini orang-orang semakin jarang menggelar khanduri apam.
“Iya, sekarang sekitar 40 persen masyarakat yang masih mengenang tentang acara seperti itu”, ujar Kepala Bidang Pengembangan Permeseuman dan Sejarah Kepurbakalaan Dinas Pariwisita Aceh, Tgk Raja Zulkarnain. Lebih lanjut kata dia, dari beberapa adat dan kebudayaan Aceh yang hampir menghilang tersebut, ada yang sedang digali kembali.
Salah satunya, kata dia, budaya dan adat Aceh yang sudah hilang seperti Meudamee. Yaitu, adat dan kebudayaan yang mendamaikan orang dalam suatu gampong yang terlibat perkelahian.
” Sekarang mari kita bentuk kembali untuk mengikat tali perdamaian”
Dia juga menyebutkan, banyak hal yang menyebabkan budaya tersebut hilang selain dari konflik yang berkepanjangan melanda Aceh juga derasnya arus budaya luar yang masuk serta karena hilangnya tokoh-tokohnya adat Aceh.
” Akan tetapi pengaruh terbesar karena masuknya budaya asing, melalui teknologi informasi dan semacamnya yang sulit untuk dibendungi”
Sementara itu, Pamong Budaya Aceh Jamal Syarif mengatakan bahkan penyebutan kata apam saja masih notasi.Selain itu kata dia, ada sekitar 400 lebih jenis kesenian dan adat Aceh, oleh sebab itu pihaknya akan terus melakukan penyelamatan terhadap budaya Aceh, salah satunya kata dia seperti batu nisan yang sudah ratusan tahun yang didalamnya terkubur tokoh-tokoh Aceh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar